Ranup.xyz - Disaat berbagai negara di dunia ini sedang bersusah payah melawan virus corona yang terus memakan
korban jiwa. Namun, satu negara di Asia Tengah, Turkmenistan, mengklaim belum
ada satu pun kasus positif virus corona di negaranya. Benarkah faktanya
demikian?
Berdasarkan data WHO, hingga Selasa (7/4), setidaknya sudah ada 1.214.466 orang di dunia yang
terjangkit Virus Corona, dan
67.767 orang meninggal. Sudah ada 211 negara, area atau wilayah yang memiliki
kasus positif.
Menurut laporan BBC, sampai saat ini
setidaknya ada 18 negara yang belum melaporkan kasus positif COVID-19, dan
salah satunya adalah Turkmenistan. Tetapi bisakah kita mempercayai angka-angka
yang diberikan oleh pemerintah Turkmenistan yang terkenal karena sensornya?
Banyak para ahli yang merasa bahwa
pemerintah Turkmenistan menyembunyikan kebenaran tentang virus corona di
negaranya. Profesor Martin McKee dari London School of Hygiene and Tropical
Medicine telah mempelajari sistem perawatan kesehatan di Turkmenistan dan
menemukan bahwa data mereka tidak dapat dipercaya.
"Selama dekade terakhir mereka
mengklaim tidak memiliki orang yang hidup dengan HIV/AIDS, sebuah angka yang
tidak masuk akal. Kami juga tahu bahwa, pada tahun 2000-an, mereka menekan
bukti serangkaian wabah, termasuk Pes," kata McKee. dikutip BBC.
Meski terlihat santai, pemerintah
Turkmenistan sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kemungkinan pandemi
virus corona masuk ke negaranya. Turkmenistan juga sudah melakukan koordinasi
dengan lembaga-lembaga yang berada di bawah PBB (Persatuan Bangsa-bangsa).
Koordinator Residen PBB, Elena Panova,
menjelaskan Turkmenistan sudah melakukan berbagai upaya mencakup koordinasi
tingkat negara, komunikasi risiko, investigasi kasus, diagnostik laboratorium,
dan langkah-langkah lainnya.
Panova tidak memberikan keterangan yang
jelas soal apakah PBB mempercayai angka resmi yang menunjukkan Turkmenistan
tidak memiliki kasus positif COVID-19. Ia menerangkan langkah-langkah awal
untuk membatasi perjalanan mungkin berkontribusi pada kurangnya kasus yang
dikonfirmasi.
"Kami mengandalkan informasi resmi
karena inilah yang dilakukan semua negara," kata Panova. "Tidak ada
masalah kepercayaan karena itu cara kerjanya."
Menurut laporan, Turkmenistan memang
menutup sebagian besar perbatasan darat lebih dari sebulan lalu. Mereka juga
membatalkan penerbangan ke China dan beberapa negara lain pada awal Februari,
mengalihkan semua penerbangan internasional dari ibu kota Ashgabat ke
Turkmenabat, tempat zona karantina.
Namun, menurut beberapa penduduk,
beberapa orang dapat bebas keluar dari zona karantina sebelum 14 hari dengan
menyuap petugas. Banyak orang di Turkmenistan bahkan takut berbicara atau
berpendapat bahwa penyakit COVID-19 mungkin sudah ada di negara tersebut.
Di saat banyak negara mengimbau
masyarakatnya melakukan physcial distancing atau mengurangi aktivitas di luar
rumah, kehidupan sehari-hari di Turkmenistan tampak seperti biasa. Kafe dan
restoran tetap buka. Masih ada kerumunan orang dan resepsi pernikahan masih
dibolehkan, serta tidak ada kewajiban memakai masker.
Namun, perjalanan antar kota telah
dibatasi dan mereka yang memasuki kota Ashgabat sekarang harus memiliki catatan
dokter. Pasar dan kantor telah dilakukan disinfeksi dengan cara pengasapan dari
rumput yuzarlik, yang digunakan dalam pengobatan herbal.
Presiden Turkmenistan, Gurbanguly
Berdymukhamedov, mengatakan membakar rumput yuzarlik akan menangkal virus
corona, meskipun tidak ada bukti untuk membenarkan hal tersebut.
Seberapa siap sistem kesehatan
Turkmenistan hadapi COVID-19
Dalam laporan BBC, Panova lagi-lagi
tidak bisa memberikan penjelasan yang lengkap soal sistem kesehatan
Turkmenistan dalam menghadapi virus yang menyerang sistem pernapasan ini.
"Kami tidak tahu," ujar
Panova, mengakui.
"Kami telah diberitahu bahwa mereka
memiliki tingkat kesiapan tertentu dan kami tidak meragukannya ... karena rumah
sakit di sini dilengkapi dengan sangat baik," tambahnya.
Panova mengatakan semua orang yang tiba
di negara itu dan mereka yang menunjukkan gejala sedang diuji untuk COVID-19.
Namun, dia tidak bisa memberikan angka pasti berapa banyak tes yang dilakukan
dalam sehari dan berapa banyak test kit yang dimiliki Turkmenistan secara
keseluruhan.
"Apa yang kami pahami saat
berbicara dengan pejabat pemerintah adalah bahwa mereka memiliki tes yang
cukup," terangnya.
Ada alasan yang kuat dan
mengindikasikan bahwa pemerintah Turkmenistan mungkin berusaha menyembunyikan
kasus pandemi COVID-19, walaupun ada warganya yang terinfeksi.
Presiden Berdymukhamedov telah
membangun citra kesehatan yang menjadi bagian penting dari Turkmenistan dan
bagian dari kultus kepribadiannya. Berdymukhamedov yang dikenal otoriter sering
mengkampanyekan gerakan "kesehatan dan kebahagiaan".
Berdymukhamedov sering tampil di
televisi dengan adegan mengangkat beban di gym atau bersepeda. Para pegawai
negeri sipil (PNS) Turkmenistan dengan seragamnya yang identik sering melakukan
olahraga setiap pagi.
Jika pandemi COVID-19 menjangkiti
Turkmenistan, diyakini bisa saja merusak citra yang dibangun Berdymukhamedov
dan akan berdampak pada posisi dan kekuasaannya sebagai presiden yang telah
menjabat selama 14 tahun sejak 2006.


0 Komentar