Ranup.xyz -Sang tokoh proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno mengatakan “berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan kugoncang dunia” dan tepat pada tanggal 28 oktober 1959 para pemuda indonesia bersumpah dan pada hari yang sama juga para pemuda indonesia mendeklarasikan hari sumpah pemuda yang di peringati setiap tahunnya yang oleh pemerintah sendiri menetapkan tanggal tersebut sebagai hari libur nasional.

            Pada hari ini, minggu 28 oktober 2018 para pemuda seluruh nusantara beserta pemerintah kembali memperingati hari sumpah pemuda yang sudah berusia kurang lebih 90 tahun sejak dideklarasikan, semoga para pemuda di seluruh pelosok negeri termasuk saya menjadi batu loncatan atau satu momen untuk terus termotivasi dalam berinovasi untuk pribadi khususnya dan untuk bangsa umumnya dan yang tidak kalah penting juga untuk kepentingan agama Allah SWT.

            Berdasarkan tema diatas “ siapa itu pemuda?” ada satu kata mutiara yang penulis dapatkan di waktu menempuh pendidikan di pesantren dulu tentang definisi pemuda lebih kurang yang bunyinya seperti ini “ tidak di katakan dia seorang pemuda selama ia masih berharap  dan mengandalakan orang tuanya, dan yang dikatakan dengan pemuda adalah yang membanggakan dirinya sendiri”.

            Ada juga definisi pemuda menurut penulis bisa di aplikasikan oleh pemuda jaman sekarang yang masih mengandalkan orang tuanya,yang bunyinya “ umurku yang sudah segini bukan lagi mengatakan orang tuaku seorang direktur,anggota dewan,kepala dinas,gubernur dll, tatapi yang mengatakan siapa aku, dan apa yang aku punya”.

            Berdasarkan dua definisi yang telah terurai di atas maknanya sama dan semoga dapat menjadi referensi bagi pembaca terutama pemuda-pemudi yang ada di seluruh nusantara khususnya dan di sentero muka bumi ini umumnya.

            Kalau kita beropini tentang pemuda, saya kira tidak cukup kertas untuk menulis dan tidak cukup waktu dalam berdiskusi atau seminar karena pemuda adalah agen of change dan yang berjiwa cerdas, kreativ, inovativ dan berwawasan luas, tapi saya hanya mencurahkan sedikit saja siapa pemuda pada zaman dulu,sekarang dan yang akan datang khususnya pemuda Indonesia.

            Pertama-tama penulis ingin menguraikan siapa pemuda pada zaman dulu?.dulu para pemuda berperan penting dalam merebut kemerdekaan dari penjajah portugis hingga belanda dan bahu membahu bersama tokoh-tokoh proklamasi lainnya dalam mempertahankan kedaulatan NKRI setelah susah payah mereka rebut dari penjajah demi nusa dan bangsa.

            Bagaimana dengan pemuda jaman sekarang?. Tugas pemuda jaman sekarang tidak seberat pemuda yang hidup jaman dulu yang telah bersusah payah merebut dan mempertahan sekaligus membangun negeri ini dari nol hingga bisa kita rasakan seperti saat ini, tapi hanya meneruskan cita-cita mulia para leluhur kita dulu untuk hidup aman,damai dan sejahtera dan bisa meneruskan ke generasi selanjtunya setelah kita.

            Tapi tealita sekarang yang  kita lihat bahwa banyak pemuda jaman sekarang sudah kehilangan pegangan, wibawa,roh serta martabat dan sudah mulai lupa terhadap cita-cita pendahulu bak perahu yang ditinggal pawangnya di tengah laut luas.

 Sudah banyak kita perhatikan baik pemuda maupun pemudi yang hidup pada jaman now istilahnya yaitu jaman milenial sudah melupakan budayanya sendiri dan sudah mulai mengikuti budaya asing yang belum tentu bisa di samakan dengan budaya indonesia yang selalu di barengi dengan agama yaitu islam.

Budaya ikut-ikutan sudah merajalela ke berbagai sisi kehidupan masyarakat Indonesia yang terutama para pemuda yang sangat mudah terpengaruhi. contoh kecil yang penulis paparkan yaitu banyak perempuan sekarang ketika keluar rumah pada pagi hari misalnya belum tentu kembali pada sore harinya dan kadang-kadang sampai larut malam yang orang tuanya tidak lagi tahu menahu tentang keberadaan anaknya yang belum pulang rumah.

Dan hal ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat indonesia umumnya dan masyarakat Aceh khususnya yang sudah di berlakukan syariat islam sejak di tantangani UUPA 2006 silam.dan ketika ada kepala daerah yang menerbitkan qanun tentang dilarangnya pemudi duduk di kafe tanpa muhrim,pengkriktik pun datang di mana-mana baik dalam maupun luar negeri daengan dalih melanggar HAM.

Menurut penulis justru dengan melarang mereka keluar dan duduk di salah satu tempat tanpa muhrimlah yang menjaga wibawa dan martabat seorang perempuan, dan tidak kalah dengan pemudi, pemuda lebih dari itu yaitu banyak sudah kita lihat dan dengar di media dan ada yang kita saksikan langsung hilang nyawa gara-gara minuman haram seperti tuak dan sejenisnya, narkoba dan sejenisnya, rela menghabiskan nya kedua orang tuanya gara narkoba, dan masih banyak lagi sudah terjurumus gara salah mengartikan HAM.

Jikalau pemuda jaman milenial ini istilahnya sudah kehilangan pegangan hidup dan pola pikirnya sudah dikekangi oleh budaya barat, bagaiman nasib pemuda selanjutnya yang dalam Hadist Nabi SAW  lebih kurang bunyinya seperti ini” baik buruknya suatu negara dan bangsa di tangan pemuda dan pemudi”?

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, dan melalui hari sumpah pemuda yang ke 90 ini semoga menjadi suatu momen untuk terus berbenah menjdi lebih baik. Penulis menyarankan unsur tepenting untuk membangun sebuah bangsa adalah keluarga.