LATAR BELAKANG

          Film BAJRANGI BHAIJAAN bukan hannya bagus untuk ditonton tapi juga banyak menggambarkan sikap dan perilaku serta nilai-nilai luhur sebagai seorang manusia yang patut kita contoh dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita, belakangan ini sikap dan perilaku serta nilai-nilai tersebut sudah jarang kita temukan dalam masyarakat, oleh karena itu film ini sangat cocok dianalisi dengan menggunakan pendekatan antropolgi, yang berkenaan dengan sikap dan perilaku manusia, tentunya akan memberi pelajaran bagi kita semua terkait sikap-sikap, perilaku dan nilai-nilai positif yang ada dalam film ini.
     

SINOPSIS


                Film ini menceritakan “shahida” seorang bocah perempuan yang tinggal di Sultan Pur, sebuah desa terpencil di Pakistan. ia tinggal di sebuah gubuk bersama ibu dan ayahnya yang sehari-hari hanya mengembala domba. Ia lahir dalam keadaan tidak bisa berbicara (bisu). Ibunya ingin syahida bisa berbicara dan bersekolah seperti anak-anak lain. Atas saran dari kerabat dan tetangga ibunya pun membulatkan tekat dengan cara apapun akan membawa gadis berumur 6 tahun itu ke sebuah tempat suci yang dikenal dengan “mehboob rangi”di Delhi, India.  bahkan para tetua desa itu pun menyakinkannya, “aku sudah sering bilang padamu, untuk membawanya (Shahida) ke Delhi,di sana orang tak punya lidah pun akan bisa berbicara, aku tak  bisa bicara saat usiaku 5 tahun, lalu akupun dibawa kesana”. katanya menyakinkan

                Saat itu hubugan kedua negara sedang dalam gejolak, akses menuju Delhi bukanlah perkara yang mudah bagi masyarakat Pakistan, Pemerintah India tidak akan memberikan visa untuk mereka. Bahkan menurut ayah shahida, lebih mudah pergi ke Amerika dari pada pada ke negara tetangga (India).

kodrat seorang ibu yang ingin anaknya hidup normal, bahagia, bisa berinteraksi seperti anak-anak lainya, tak peduli badai menghadang, rintangan menjulang, semua kesulitan akan ditempuh demi kesembuhan putri tercinta. Sang ayah pun tak kalah peran, semua domba yang ia gembala sepenuh hati selama ini, tanpa terbesit rasa ragu ia jual untuk biaya keberangkatan sang istri dan buah hati ke New Delhi.

                Dalam perjalanan pulang, kereta api yang mereka tumpangi mengalami masalah, kereta itupun berhenti sejenak, dari jendela kereta api syahida menoleh keluar ia mendapati seekor domba yang jatuh dalam lubang. Karena merasa kasihan pada domba yang malang itu, lalu ia turun dari kereta api dan menolong kambing malang itu. Tanpa ia sadari, kereta mulai melaju kembali. Gadis itu mulai mengejar dan berteriak sekuat tenaga, namunn apa daya, tak ada nada yang keluar dari mulut gadis mungil itu, ia pun tertinggal sendiri, dan mulai pasrah.

                Sebuah kereta api behenti di depan syahida, ia menumpangi kereta itu dan tertidur pulas, ketika bangun ia kembali berada ditempat asing bersama orang-orang asing, ia tersesat. Syahida bertemu dengan Pawan, seorang pengikut dewa Bajrangbali ia biasa dikenal dengan “bajrangi”. Pawan membawanya ke sebuah kuil dan berharap orang tuanya akan menemukannya di sana, tapi syahida terus saja mengikutinya, hingga membuat pawan tidak tega untuk meninggalkan perempuan kecil yang malang itu, akhirnya Pawan membawa Syahida ke rumah pamanya, tempat ia tinggal di Delhi, ia tinggal bersama paman, dan Syahida pun diberi nama “Munni”

                 Singkat cerita, setelah keluarga pawan tahu bahwa Munni merupakan anak warga Pakistan yang sudah pasti beragama islam, Pamannya jadi sangat murka dan memerintahkan pawan untuk segera memulangkannya ke negeri asal gadis cilik itu, ia sangat membenci warga Pakistan dan tidak boleh ada orang beragama lain yang tinggal dirumahnya. Lalu Pawan membawa Munni ke Duta Besar Pakistan yang ada di Delhi,
               
                dengan harapan mereka akan bersedia memulangkan Munni, namun karena hubugan kedua negara sedang dalam masa kritis, Duta besar pakistan itu tidak bersedia memulangkan Munni dengan alasan ia tak punya identitas dan pasport.

                Munni dibawa kembali ke tempat tinggal Pawan, paman pawan pun mendesak agar Munni cepat-cepat angkat kaki dari rumahnya. Lalu pamannya memberitahukan bahwa ia punya kawan yang bekerja membuat  pasport, ia sudah sangat muak dengan wajah-wajah warga pakistan. pawanpun membawa munni ke sana, tapi kawan pamannya itu tidak bekerja membuat pasport untuk negara tetangga, mereka biasanya membantu membuat pasport untuk ke Amerika, Inggris, Belanda, Jerman, dan negara-negara maju lainnya. Tapi ia memberikan opsi bahwa ia punya kenalan yang dapat menyeberangi munni ke perbatasan, akan tetapi ia meminta bayaran yang tidak sedikit.

                Tapi apa yang terjadi? Munni bukannya dibawa pulang ke negaranya, ia bahkan hendak dijual kepada pemilik tempat pelacuran, melihat hal itu, air mata pawan menetes, lalu ia bersumpah pada Bajrangbali untuk memulangkan munni ke negara asalnya dengan tangannya sendiri.


 ANALISIS ANTROPOLOGIS TERHADAP FILM “BAJRANGI BHAIJAAN”

 1.  Historis
                 Sejarah merupakan riwayat perjalanan hidup sebuah bangsa yang membentuk karakter, sikap, nilai-nilai serta budaya dalam suatu masyarakat. Dan sejarah telah mencatat bahwa India dan Pakistan  pernah bertikai dimasa lalu sehingga sikap saling membenci dan tidak peduli antar kedua negara ini masih terwarisi dan  tertanam dalam benak kedua masyarakat negara ini, hal ini dapat dilihat dari kata-kata Dayanand (ayahnya Rasika) yang masih mengutuk bangsa Pakistan.

Dayanand :Kau harus menyerahkannya ke kedutaan Pakistan besok, bangsanya sudah membunuh bangsa kita tanpa ampun”
Rasikal : “Dia tidak tahu apa-apa soal itu !”

                Dari sini kita dapat melihat bahwa ayah rasikal masih menyimpan dendam terhadap Pakistan. Tapi tokoh Rasikal dan Pavan tetap bersikukuh membantu Syahida alias Munni pulang ke negara asalnya Pakistan, dan tidak menjadikan kejadian masalalu sebagai alasan untuk tidak membela Munni.
     
 2. Budaya
                Dalam film ini cukup jelas digambarkan perbedaan budaya India dan Pakistan, India memiliki budaya yang kental akan nilai-nilai, norma-norma yang ada dalam agama Hindu, sedangkan Pakistan memiliki budaya yang dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam agama Islam.
Hal ini dapat kita  lihat pada adegan ketika pawan pertama kali sampai di kediaman pamannya.

Pawan : “ada yang masak daging ?
Pamannya : “tetangga sebelah, mereka muslim. Tetapi dirumahku, sudah ku putuskan tidak mengijinkan siapapun yang beragama lain tinggal di sisni.

Di adegan lain Syahida alias Munni sebagai seorang warga pakistan dan beragama islam ia memakan daging. Ini tergambarkan pada adegan saat makan, munni dikala itu sedang mencuci tangan mencium bau daging yang dimasak oleh tetangga dan ia pergi kesana ikut makan bersama, kemudian pawan menemukannya sedang memakan daging ayam dirumah tetangganya dan ia menarik munni keluar dari rumah itu serta meninggalkan makanan itu.

Dan malamnya pawan membawa munni ke tempat makan yang menjual aneka makanan yang terbuat dari daging. Ketika sampai di sana, ia menyuruh pelayan untuk membawakan hidangan terbaik  untuk munni

pawan : “bawakan saja hidangan terbaik untuk anak ini”

pelayan : “baik tuan”


disini dapat kita lihat bahwa meskipun latar budaya yang saling berlawanan tapi sikap pawan yang selalu menyayangi dan melindungi munni tidak berhenti disitu dengan kata lain budaya yang berbeda tidak menjadi alasan untuk tidak menyayangi orang lain


3. Sikap Saling tolong menolong 
                Sikap  salaing tolong merupakan sikap yang dipandang mulia dalam setiap budaya masyarakat.

                Dalam film ini sikap saling membantu antar sesama sangat jelas digambarkan hal ini dapat kita lihat pada tokoh Rasikal dan Pavan yang tulus dalam membantu syahida alias munni untuk kembali ke negaranya yaitu Pakistan, dengan penuh kerelaan dan pengorbanan 



Pavan  : Aku akan mengantar Munni pulang “ 
Rasikal : Jangan bicara sembarangan Pavan, tidak passport maupun visa, kau orang asing disana, kita akan cari cara lain.” 
Pavan : “ seluruh kebahagiaan ada dalam doamu. Saat kau pelindungnya maka tidak ada lagi ketakutan. Semua bahaya dan rasa sakit akan sirna, bagi siapapun yang mengingat keberanian dan dewa Hanuman. Aku tidak punya passport maupun visa aku orang asing tapi sama seperti Bajrangbali, dewa Ram juga ada dalam hatiku, dan jiwa Ram ada dalam hatimu, semuanya bisa jadi mungkin .”

        
4. Sikap Tidak Mendiskriminasikan orang lain meski beda agama.
                Agama merupakan salah satu unsur pembentuk suatu budaya dalam kehidupan masyarakat, terkadang target untuk berbuat baik hannya kepada  orang yang seagama.

Dan dalam film ini menggambarkan bahwa meski berbeda agama atau kepercayaan tidak menjadi suatu penghalang atau tembok pemisah dalam menolong orang lain, hal ini tergambar jelas dalam film ini ketika Pavan mengetahui syahida alias muni berbeda keyakinan dengannya, tapi ia tetap sayang dan melindunginya, berikut percakapan rasikal dan pavan yang menunjukan ketulusan niat mereka dalam menolong dengan tanpa melihat perbedaan keyakinan.

Pavan :Munni itu orang Islam, apa kau perhatikan cara dia makan ayam tadi malam?, dan didalam sini (mesjid) dia memakai kerudung dan berdoa”
Rasikal :Dimana dia sekarang?”
Pavan : “Apa kata ayahmu nanti?”
Rasikal  :Pavan! dimana Munni?”
Pavan :Dia menkhianati kita”
Rasikal :Menkhianati?, dia hannya anak yang berumur enam tahun, jauh dari rumah, jauh dari orang tua, malang sekali dia tidak bisa bicara”
Pavan :Bagaimana dengan ayahmu?, dia orang Islam”
Rasikal :Pavan, jangan bersikap bodoh, kau tahu, kenapa aku mencintaimu?, karena hatimu sangat baik. Soal kasta dan agama itu, semuanya omong kosong, jangan buang waktumu untuk urusan sepele, aku tidak bisa mengatakan ini pada ayah tapi kau bisa. Ayo dia sendirian didalam”.

                Dari percakapan ini dapat dilihat bahwa tokoh rasikal tidak menjadikan perbedaan agama atau keyakinan sebagai sesuatu hal yang menghalanginya untuk berbuat baik pada orang lain.
      
5. Kejujuran
                Film ini juga mengajarkan kita arti dari sebuah kejujuran yang membawa kepada keberhasilan, pavan yang digambarkan sebagai pengikut dewa Hanuman yang ajarannya adalah harus berkata jujur meski dalam kondisi apapun, disini Pavan digambarkan tetap teguh dengan ajaran dewa Hanuman yang meski ia dipukuli bahkan hampir mati tapi ia tetap berkata jujur. Ketika ia melewati perbatasan antara Pakistan dan India

Bu ali :Ayo!”
Pavan :Aku butuh izin”
Bu ali :Apa ?”
Pavan :Aku akan meminta izin aparat tentara untuk melanjutkan perjalanan.”
Bu ali :Sekarang bukan saatnya bercanda. Ayo!!
Pavan :Aku pengikut Bajrangbali. Aku orang yang jujur.”
Bu ali :Kau sudah gila?, mereka akan menembak kita kumohon, pergilah.”
Pavan : “Munni, izin, kita butuh izin.” (Seraya munni menarik tangan pavan mengajak pergi.)
5. Sikap Rela Berkorban Demi Orang Lain

                Pawan bukan hannya digambarkan sebagi orang yang iba terhadap orang lain tapi disamping rasa ibanya itu ia juga siap berkorban demi orang lain, ini dapat kita lihat pada saat pawan bertekat mengantar Munni pulang kenegara asalnya yaitu Pakistan, ia tidak gentar meski ia tahu besar resiko yang akan ia tanggung.

Pavan : “ seluruh kebahagiaan ada dalam doamu. Saat kau pelindungnya maka tidak ada lagi ketakutan. Semua bahaya dan rasa sakit akan sirna, bagi siapapun yang mengingat keberanian dan dewa Hanuman. Aku tidak punya passport maupun visa aku orang asing tapi sama seperti Bajrangbali, dewa Ram juga ada dalam hatiku, dan jiwa Ram ada dalam hatimu, semuanya bisa jadi mungkin .”
               
disisni dapat kita apahami bahwa sikap rela berkorban demi orang lain sangat kuat bahkan ia tidak peduli dengan rintangan yang akan menghadangnya.